Minggu, 31 Juli 2011

Sebuah Catatan

      Bayangan apa yang ada dibalik senyummu?
Sketsa buram bagaimana yang bersembunyi dibalik layar matamu?

Katamu biar saja aku pergi
Terserahku mau membawa apa yang kumau

Kutau kau sangat mengerti hati ini
Kau ingin mambiarkanku mandiri

Namun langkahku terpaku
Tak bisa melaju

Sejujurnya ingin kuangkut seluruhnya
Hasil jerih payah kita
Tapi tak bisa

Didepanku menghadang sebuah tembok
Tak terlalu tinggi, mudah kuloncati
Tak terlalu kokoh, bisa saja kuhancurkan

Tapi, bukan sifatku yang begitu
Tak ingin kunodai jalanku
Juga tembok itu

Hanya karna rasa tak enak hati
Biarlah kutunggu saja
Apakah pintu ditembok itu akan terbuka
Jika tidak,
Kutinggalkan saja milikku padamu
lalu, aku pergi memutar

Dan waktupun berlalu
Aku telah sampai diujung jalanku
Harapku agar kau kirimkan lagi semua itu
Agar aku bisa mengenangmu

Dan jika semua itu tetap kau genggam
Tuliskanlah namaku disana
Lalu, kenanglah diriku bersamanya

Tak usah ragu dan menghawatirkanku
Aku tetap masih melaju
Meski harus mencari pelita hati yang lain

Jadi, aku tetap masih hidup
Walau dalam kesendirian
Tapi aku masih bisa bernyanyi,
menulis puisi,
melukis impian-impian
 
Aku masih tetep berpijar
Terang
Masih seperti dahulu
Selalu begitu.