Bayangan apa yang ada dibalik senyummu?
Sketsa buram bagaimana yang bersembunyi dibalik layar matamu?
Katamu biar saja aku pergi
Terserahku mau membawa apa yang kumau
Kutau kau sangat mengerti hati ini
Kau ingin mambiarkanku mandiri
Namun langkahku terpaku
Tak bisa melaju
Sejujurnya ingin kuangkut seluruhnya
Hasil jerih payah kita
Tapi tak bisa
Didepanku menghadang sebuah tembok
Tak terlalu tinggi, mudah kuloncati
Tak terlalu kokoh, bisa saja kuhancurkan
Tapi, bukan sifatku yang begitu
Tak ingin kunodai jalanku
Juga tembok itu
Hanya karna rasa tak enak hati
Biarlah kutunggu saja
Apakah pintu ditembok itu akan terbuka
Jika tidak,
Kutinggalkan saja milikku padamu
lalu, aku pergi memutar
Dan waktupun berlalu
Aku telah sampai diujung jalanku
Harapku agar kau kirimkan lagi semua itu
Agar aku bisa mengenangmu
Dan jika semua itu tetap kau genggam
Tuliskanlah namaku disana
Lalu, kenanglah diriku bersamanya
Tak usah ragu dan menghawatirkanku
Aku tetap masih melaju
Meski harus mencari pelita hati yang lain
Jadi, aku tetap masih hidup
Walau dalam kesendirian
Tapi aku masih bisa bernyanyi,
menulis puisi,
melukis impian-impian
Aku masih tetep berpijar
Terang
Masih seperti dahulu
Selalu begitu.