Tak pernah aku mengerti mengapa awal dari namaku menggunakan kata itu.Sebuah kata yang umum ada disetiap nama insan yang muslim.
Tapi kata itu indah. Sejauh aku bisa memandang tak pernah ada kegelisahan yang menderaku kala mengucap sebutan itu.
Dan aku mengerti tentang rasa apa yang tertancap dihati saat ada orang yang memenggilku dengan itu.
Itulah muhammad, nama yang diambi dari manusia termulia, seseorang yang dirindukan langit dan dibanggakan bumi. Orang yang telah mengajarkan bagaimana agar hidup ini indah. Beliaulah nabi akhir zaman sayyidina Muhammad SAW.
Tapi aku merasa bingun dengan tipisnya rasa rinduku pada Sang Penerang itu. Mengapa aku lebih sering membayangkan menusia lain? mengapa saat terbangun dari tidur bukan dirinya yang kusebut? Bukankan ia telah berjuang untuk keselamatan umatnya, hingga diakhir hayatnya masih mengingat umatnya dengan "Ummaty ummaty ummaty"? Bukankan aku termasuk umatnya yang ia khawatirkan itu?
Lalu kenapa dengan diriku ini? Apakah masih sangat lemah imanku ini? Dan apakah aku layak menyandan sebutan muhammad itu?
Yang pasti aku akan tatap berusaha agar aku akan selalu mengiang-ngiangkannya dibenakku, agar disetiap aliran darahku termaktub jua lukisan indah wajahnya.
Agar layak aku membanggakan diri sebagai penyandang nama muhammad dan aku bisa mampu untuk memanggilnya kelak dihari yang pasti nanti untuk meminta pertolongan.
Dan tentu bukan hanya sekedar mengingat dirinya, tapi juga menjalankan apa yang telah ia ajarkan, untuk meminta keridhoannya juga keridhoan Tuhannya.
Tapi kata itu indah. Sejauh aku bisa memandang tak pernah ada kegelisahan yang menderaku kala mengucap sebutan itu.
Dan aku mengerti tentang rasa apa yang tertancap dihati saat ada orang yang memenggilku dengan itu.
Itulah muhammad, nama yang diambi dari manusia termulia, seseorang yang dirindukan langit dan dibanggakan bumi. Orang yang telah mengajarkan bagaimana agar hidup ini indah. Beliaulah nabi akhir zaman sayyidina Muhammad SAW.
Tapi aku merasa bingun dengan tipisnya rasa rinduku pada Sang Penerang itu. Mengapa aku lebih sering membayangkan menusia lain? mengapa saat terbangun dari tidur bukan dirinya yang kusebut? Bukankan ia telah berjuang untuk keselamatan umatnya, hingga diakhir hayatnya masih mengingat umatnya dengan "Ummaty ummaty ummaty"? Bukankan aku termasuk umatnya yang ia khawatirkan itu?
Lalu kenapa dengan diriku ini? Apakah masih sangat lemah imanku ini? Dan apakah aku layak menyandan sebutan muhammad itu?
Yang pasti aku akan tatap berusaha agar aku akan selalu mengiang-ngiangkannya dibenakku, agar disetiap aliran darahku termaktub jua lukisan indah wajahnya.
Agar layak aku membanggakan diri sebagai penyandang nama muhammad dan aku bisa mampu untuk memanggilnya kelak dihari yang pasti nanti untuk meminta pertolongan.
Dan tentu bukan hanya sekedar mengingat dirinya, tapi juga menjalankan apa yang telah ia ajarkan, untuk meminta keridhoannya juga keridhoan Tuhannya.