Rabu, 15 Juni 2011

Muhammad

  Tak pernah aku mengerti mengapa awal dari namaku menggunakan kata itu.Sebuah kata yang umum ada disetiap nama insan yang muslim.
     Tapi kata itu indah. Sejauh aku bisa memandang tak pernah ada kegelisahan yang menderaku kala mengucap sebutan itu.

     Dan aku mengerti tentang rasa apa yang tertancap dihati saat ada orang yang memenggilku dengan itu.

     Itulah muhammad, nama yang diambi dari manusia termulia, seseorang yang dirindukan langit dan dibanggakan bumi. Orang yang telah mengajarkan bagaimana agar hidup ini indah. Beliaulah nabi akhir zaman sayyidina Muhammad SAW.

     Tapi aku merasa bingun dengan tipisnya rasa rinduku pada Sang Penerang itu. Mengapa aku lebih sering membayangkan menusia lain? mengapa saat terbangun dari tidur bukan dirinya yang kusebut? Bukankan ia telah berjuang untuk keselamatan umatnya, hingga diakhir hayatnya masih mengingat umatnya dengan "Ummaty ummaty ummaty"? Bukankan aku termasuk umatnya yang ia khawatirkan itu?

      Lalu kenapa dengan diriku ini? Apakah masih sangat lemah imanku ini? Dan apakah aku layak menyandan sebutan muhammad itu?

      Yang pasti aku akan tatap berusaha agar aku akan selalu mengiang-ngiangkannya dibenakku, agar disetiap aliran darahku termaktub jua lukisan indah wajahnya.

      Agar layak aku membanggakan diri sebagai penyandang nama muhammad dan aku bisa mampu untuk memanggilnya kelak dihari yang pasti nanti untuk meminta pertolongan.

      Dan tentu bukan hanya sekedar mengingat dirinya, tapi juga menjalankan apa yang telah ia ajarkan, untuk meminta keridhoannya juga keridhoan Tuhannya.

Apakah Tabu? Aku Berdiam

Menulis dangan realita terdekat, nafsu.....andai ada mentari wajahmu yang mampu aku jamah....andai mampu kudekap sinaran tubuhmu....kuredam kegelisahanku padamu dan kuhancurkan duka laramu dihatiku....

Sering tak bisa aku terlelap meski tubuh telah letih...dan sering aku bertanya apa yang akhir-akhir ini membuatku tak bisa menulis, jangankan untuk selembar kisah, sebait puisipun aku tak mampu.

Itu karena sebuah kalimat yang masih kupendam jauh di dasar mimpiku, kata yang mudah saja tapi lidahku dikunci untuk mengatakannya....Bukan aku takut untuk kehilanganmu, bukan pula aku ingin mendominasi hidupmu....

Rasaku ada diantara dua lembah itu....diapit gunung membatu, ditiup udara yang sering berubah-ubah, kadang sejuk, panas, gersang, sepi hingga badai yang bergemuruh hebat.

Tapi kasihku ini tak di aliri oleh mata air senyummu...hingga melayu senyu...meredup tapi masih berusaha kujaga agar tak mati.

Agar mungkin suatu waktu nanti api kecilku dapat menolongmu yang tersesat dalam gelap, agar tegap pundakku masih utuh kapanpun kau memerlukan sandaran. Agar binar mata kecoklatan yang kau miliki masih terang, masih menyenangkan.

Lalu kau mampu terbang melayang dan sanggup untuk melindungi seperti aku melindungimu, maka aku akan percayakan kau pergi untuk memimpin jalan yang akan ditempuh diri dan bayangmu yang mengikuti. Walau sesilat lidahku belum pernah mengatakan bahwa betapa aku sangat menyayangimu.