Rabu, 15 Juni 2011

Apakah Tabu? Aku Berdiam

Menulis dangan realita terdekat, nafsu.....andai ada mentari wajahmu yang mampu aku jamah....andai mampu kudekap sinaran tubuhmu....kuredam kegelisahanku padamu dan kuhancurkan duka laramu dihatiku....

Sering tak bisa aku terlelap meski tubuh telah letih...dan sering aku bertanya apa yang akhir-akhir ini membuatku tak bisa menulis, jangankan untuk selembar kisah, sebait puisipun aku tak mampu.

Itu karena sebuah kalimat yang masih kupendam jauh di dasar mimpiku, kata yang mudah saja tapi lidahku dikunci untuk mengatakannya....Bukan aku takut untuk kehilanganmu, bukan pula aku ingin mendominasi hidupmu....

Rasaku ada diantara dua lembah itu....diapit gunung membatu, ditiup udara yang sering berubah-ubah, kadang sejuk, panas, gersang, sepi hingga badai yang bergemuruh hebat.

Tapi kasihku ini tak di aliri oleh mata air senyummu...hingga melayu senyu...meredup tapi masih berusaha kujaga agar tak mati.

Agar mungkin suatu waktu nanti api kecilku dapat menolongmu yang tersesat dalam gelap, agar tegap pundakku masih utuh kapanpun kau memerlukan sandaran. Agar binar mata kecoklatan yang kau miliki masih terang, masih menyenangkan.

Lalu kau mampu terbang melayang dan sanggup untuk melindungi seperti aku melindungimu, maka aku akan percayakan kau pergi untuk memimpin jalan yang akan ditempuh diri dan bayangmu yang mengikuti. Walau sesilat lidahku belum pernah mengatakan bahwa betapa aku sangat menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar