Minggu, 27 Februari 2011

Mengapa Menulis ???

Terbaca sebuah pertanyaan "mengapa aku menulis ?"
Oh tentu saja hal pertama yang terbersit kala membaca tulisan itu "napa takun-takun! Sarah nda ae handak nulis" dan juga "bodoh kali ne orang ya, buat apa coba nulis pertanyaan kayak ini
?"
Tapi sampai disitukah aku berpikir? Ternyata tidak! Kucoba baca apa yang tersirat dari sebuah tulisan itu. Dan akhirnya kutemui.
Menurutku pertanyaan itu adalah sebagian dari kondisi yang kusebut 'cara mengukur isi kepala seseorang'.
Dan aku tertantang untuk menjawab. Dulu, lama waktu yang lalu, aku sudah menulis ini dan itu dengan brutal, tanpa pengetahuan bagaimana sebuah tulisan itu bisa menjadi tulisan yang patut dibaca.
Dan setelah sekian tahun berlalu hingga tiba pertamuanku dengan sebuah kelompok kecil penulis di sekolah. Maka aku tersadar dan tertarik untuk bergabung.
Singkat kisah aku telah diterima sebagai anggota baru dan telah mengikuti beberapa kali pertemuan singkat. Dan aku merasa sudah hebat sampai datang ajakan mengikuti sebuah seminar kepenulisan di salah satu kampus dekat sekolahku, maka aku bersedia ikut dengan sombongnya.
Tepat di hari H di kampus tersebut tadi, seusai acara seminar itu aku baru tersadar akan kebodohanku. Betapa tidak, toh 2 jam lebih pembicaraan menarik disodorkan aku hanya berdiam mendengar terpaku tak sanggup mengungkapkan apa-apa.
Dan kau tahu, itu bukan karena aku gak bisa bicara pada khalayak, tapi lebih pada bahwa tak ada yang mampu terpikirkan oleh otak ini karna banyaknya hal baru yang hanya sesaat sebelumnya baru kuketahui.
Dan dari sana aku mulai berpikir dan berpendapat behwa aku menulis bukan untuk apa-apa.
Tapi aku menulis untuk belajar dan belajar. Dengan menulis aku bisa terus melaju maju tanpa hilang pegangan, karna sungguh banyak buku-buku dan orang-orang di daerah yang bernama 'kepenulisan' ini untuk kujadikan pegangan dan batu injakan guna kemajuan yang harus kudapat bagaimanapun caranya.
Dan tentu saja juga karna menulis itu menyenangkan. Jadi aku melakukan 2 hal yang saling mengisi satu sama lain.
Yaitu;belajar dan bersenang-senang hanya dengan satu hal yang kukerjakan, dialah menulis.
Mungkin terlalu panjanglah jawabanku atas sebuah pertanyaan pendek itu, tapi sekali lagi kukatakan bahwa ini juga bagian dari pembelajaranku yang menyenangkan itu.
Kupikir begitu.

Sabtu, 26 Februari 2011

Fakhry & Dewi

Fakhry dan Dewi. Terlihat indah kala memandang keselarasan hidup mereka.
Keindahan itu terpatut seperti kala dahulu, masa yang telah terlewati,zaman ketika hanya ada tangis dan tawa bahagia.
Mengingatkanku pada suatu kejadian lampau yang mampu menumbuhkan sebuah semangat dalam tetes air mata ini.
Aku dan Ibukulah yang kuingat. Kala itu semuanya terasa sangat menyenangkan indah tepat pada waktunya.
Ibu, kau tampatku bersandar disaat lelah. Pundakmu yang lebar itu menjadi tempat tujuan untukku bertumpu, meluruhkan seluruh keluh kesah, mimpi, impoan dan tentu cintaku.
Tatap matamu tak setajam matahari tapi sinarmu jauh lebih benderang dari apapun jua yang menghasilkan cahaya.
Dan lagi percayamu mampu membakar semangatku menemaniku hingga kini beranjak dewasa.

Tapi, semua itu hanya tinggal sebuah kenangan masa lalu yang telah terkubur begitu dalam sampai saat ini penglihatan akan sepasang Ibu dan anak itu tiba menghampiri duniaku kembali.
Yah begitulah hidupku. Selalu ada DE JAVU yang terus menyertainya baik nyata ataupun tidak, baik dari diriku ataupun melewati orang lain seperti ini.

Harapku pada kalian wahai fakhry dan Dewi. Jadilah anak dan Ibu yang sungguh sangat dapat membuat senyum bagi dunia ini.
Cukuplah aku yang merasakan kegundahan akibat hilangnya keseinbangan hidup kala terjadi sesuatu yang tak ingin siapapun mengalaminya, tapi, sungguh aku percaya itu adalah sebagian dari rahasia hidupku yang telah dibedakan oleh Sang Pembuat Takdir.
Sebuah simponi itu telah lama berlalu. Dan kini aku berharap semoga jalanmu wahai saudariku juga anakmu berjalan lurus sajalah namun tetap berakhir pada sebuah kebanggaan hidup.
Melalui cinta dan kasih tentunya. Hiduplah keseimbangan kehidupan, semoga semua tetap indah pada waktunya.