Terbaca sebuah pertanyaan "mengapa aku menulis ?"
Oh tentu saja hal pertama yang terbersit kala membaca tulisan itu "napa takun-takun! Sarah nda ae handak nulis" dan juga "bodoh kali ne orang ya, buat apa coba nulis pertanyaan kayak ini
?"
Tapi sampai disitukah aku berpikir? Ternyata tidak! Kucoba baca apa yang tersirat dari sebuah tulisan itu. Dan akhirnya kutemui.
Menurutku pertanyaan itu adalah sebagian dari kondisi yang kusebut 'cara mengukur isi kepala seseorang'.
Dan aku tertantang untuk menjawab. Dulu, lama waktu yang lalu, aku sudah menulis ini dan itu dengan brutal, tanpa pengetahuan bagaimana sebuah tulisan itu bisa menjadi tulisan yang patut dibaca.
Dan setelah sekian tahun berlalu hingga tiba pertamuanku dengan sebuah kelompok kecil penulis di sekolah. Maka aku tersadar dan tertarik untuk bergabung.
Singkat kisah aku telah diterima sebagai anggota baru dan telah mengikuti beberapa kali pertemuan singkat. Dan aku merasa sudah hebat sampai datang ajakan mengikuti sebuah seminar kepenulisan di salah satu kampus dekat sekolahku, maka aku bersedia ikut dengan sombongnya.
Tepat di hari H di kampus tersebut tadi, seusai acara seminar itu aku baru tersadar akan kebodohanku. Betapa tidak, toh 2 jam lebih pembicaraan menarik disodorkan aku hanya berdiam mendengar terpaku tak sanggup mengungkapkan apa-apa.
Dan kau tahu, itu bukan karena aku gak bisa bicara pada khalayak, tapi lebih pada bahwa tak ada yang mampu terpikirkan oleh otak ini karna banyaknya hal baru yang hanya sesaat sebelumnya baru kuketahui.
Dan dari sana aku mulai berpikir dan berpendapat behwa aku menulis bukan untuk apa-apa.
Tapi aku menulis untuk belajar dan belajar. Dengan menulis aku bisa terus melaju maju tanpa hilang pegangan, karna sungguh banyak buku-buku dan orang-orang di daerah yang bernama 'kepenulisan' ini untuk kujadikan pegangan dan batu injakan guna kemajuan yang harus kudapat bagaimanapun caranya.
Dan tentu saja juga karna menulis itu menyenangkan. Jadi aku melakukan 2 hal yang saling mengisi satu sama lain.
Yaitu;belajar dan bersenang-senang hanya dengan satu hal yang kukerjakan, dialah menulis.
Mungkin terlalu panjanglah jawabanku atas sebuah pertanyaan pendek itu, tapi sekali lagi kukatakan bahwa ini juga bagian dari pembelajaranku yang menyenangkan itu.
Kupikir begitu.
Oh tentu saja hal pertama yang terbersit kala membaca tulisan itu "napa takun-takun! Sarah nda ae handak nulis" dan juga "bodoh kali ne orang ya, buat apa coba nulis pertanyaan kayak ini
?"
Tapi sampai disitukah aku berpikir? Ternyata tidak! Kucoba baca apa yang tersirat dari sebuah tulisan itu. Dan akhirnya kutemui.
Menurutku pertanyaan itu adalah sebagian dari kondisi yang kusebut 'cara mengukur isi kepala seseorang'.
Dan aku tertantang untuk menjawab. Dulu, lama waktu yang lalu, aku sudah menulis ini dan itu dengan brutal, tanpa pengetahuan bagaimana sebuah tulisan itu bisa menjadi tulisan yang patut dibaca.
Dan setelah sekian tahun berlalu hingga tiba pertamuanku dengan sebuah kelompok kecil penulis di sekolah. Maka aku tersadar dan tertarik untuk bergabung.
Singkat kisah aku telah diterima sebagai anggota baru dan telah mengikuti beberapa kali pertemuan singkat. Dan aku merasa sudah hebat sampai datang ajakan mengikuti sebuah seminar kepenulisan di salah satu kampus dekat sekolahku, maka aku bersedia ikut dengan sombongnya.
Tepat di hari H di kampus tersebut tadi, seusai acara seminar itu aku baru tersadar akan kebodohanku. Betapa tidak, toh 2 jam lebih pembicaraan menarik disodorkan aku hanya berdiam mendengar terpaku tak sanggup mengungkapkan apa-apa.
Dan kau tahu, itu bukan karena aku gak bisa bicara pada khalayak, tapi lebih pada bahwa tak ada yang mampu terpikirkan oleh otak ini karna banyaknya hal baru yang hanya sesaat sebelumnya baru kuketahui.
Dan dari sana aku mulai berpikir dan berpendapat behwa aku menulis bukan untuk apa-apa.
Tapi aku menulis untuk belajar dan belajar. Dengan menulis aku bisa terus melaju maju tanpa hilang pegangan, karna sungguh banyak buku-buku dan orang-orang di daerah yang bernama 'kepenulisan' ini untuk kujadikan pegangan dan batu injakan guna kemajuan yang harus kudapat bagaimanapun caranya.
Dan tentu saja juga karna menulis itu menyenangkan. Jadi aku melakukan 2 hal yang saling mengisi satu sama lain.
Yaitu;belajar dan bersenang-senang hanya dengan satu hal yang kukerjakan, dialah menulis.
Mungkin terlalu panjanglah jawabanku atas sebuah pertanyaan pendek itu, tapi sekali lagi kukatakan bahwa ini juga bagian dari pembelajaranku yang menyenangkan itu.
Kupikir begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar