Rabu, 09 November 2011

Sejenak bertahan

Saat berhenti tiba.
Bukan selamanya.
Hanya sejenak, untuk kembali meluruskan.
Oleh telah banyak duri yang menghambur dijalan, yang memang tak tajam, tapi kadang juga menyakitkan.

Bertahan untuk dimengerti.
Mencoba menelusuri.
Kandungan apa yang kuberi.
Dalam diam yang hanya sendiri.

Dan kini kupergi.
Entah apa yang akan kau pahami.
Yang pasti, niatku masih bersandar disanubari.
Untuk memperbaiki.
Untuk meninggalkan sesuatu dihati.

Jalan Penyampaianku

Apa jua cinta yang tak sampai.
Terhalang diri sejalan.
Menembus liku duri hamparan.

Berputih kasih dalam keseriusan.
Terhalang tawa dan kelunya lisan.

Berpasrah tempuh dalam senyuman.
Percaya, dan tak ada harapan.
Tapi mudah terus berpapasan.
Bersanding senang keceriaan.

Tak seperti kesungguhan.
Berdiri hati menatap masa depan.
Inginkan rasa ini tersampaikan.
Menyentuh hati, merekahkan kembang.
Meluruskan jalan kisah yang dulu buram.

Inginku hanya sekedar harapan.
Tentu sulit menghadang serbuan.
Antara logika dan perasaan.
Melaju sakit pun juga bertahan.

Tak bisa kulepas dalam lamunan.
Semilir hawa lewat tatapan.
Teduh saja mudah dikenang.

Hingga saat bunga dikarang.
Bertumpu nurani dalam kepiluan.
Tapi berlalu seolah tenang.
Tak ada apa yang perlu dikhawatirkan.

Simpony Sebuah Paku

Paku.
Tahukah kalian tentang paku?
Ialah yang menahan bangunan.
Sikecil yang tertanam.

Menyendiri dan terpisah-pisah.
Namun konsisten dengan tanggung jawabnya.
Satu sama lain.
Mengerti dan saling berhubungan.
Tapi hanya sekedar untuk nyaman dipandang.
Tak ada basa-basi tak berarti.
Dan tak pula bermimpi lebih tinggi.

Kesederhanaan yang lurus.
Tegar meski terpukul terpontang-panting.
Serta teguh bersama badai dan teriknya surya.
Tak mengeluh tentang dinginnya malam.
Dan tak bertoleransi pada kelemahan.

Hanya, saat menghadap kekerasan.
Mengalah agar tak saling menghancurkan.

Mengukir namaku di Surga

Bersinarlah mentari.
Benamkan semua duka.
Yang dalam kegelapan malam.
Membuatku terus dan terus terjaga.

Arti tatapan matamu.
Bagai rembulan dan matahari.
Meneduhkan dan menyemangati.
Membakar habis lesu raga dan ruhani.

Terbias aura kasih.
Bertopeng acuh dan tak simpati.
Tapi, sungguh dalam hati.
Tak terlewat detik tanpa dirimu.

Bersih berkumandang lantang suara.
Namun, perih yang tersembunyi.

Masih menatap dalam sepi.
Hingga kita tahu siapa yang lebih peduli.
Yang memenangkan perseteruan hati ini.

Perseteruan bathin.
Membumbui perjalanan keinginan akan dirimu.
Apakah akan membual dengan mencinta.
Atau pergi berkelana mencari pena.

Untuk menulis dan melukis ridha Sang Maha Kuasa.
Dengan tak lagi menatap bayangmu.
Tapi, ini hanya untuk sementara.
Menunggu hingga waktu halalmu tiba.
Karna tak sanggup jika dibenci.
Bahkan hanya tak peduliNya pada diri.
Karna kuingin.
Mengukirkan nama disurga Ilahi Rabby.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Kepedulian?

Acuh
Pernahkah aku peduli
Sesaat lalu memang kurasakan
Tapi, kini telah kubuang

Inginku bertanya
Apakah pernah kau bermimpi?
Mendambakan sesuatu yang indah?
mencita-cita segala yang mulia?

Lalu, bagaimana kau bisa disana?
Berdiri didalam hutan tidur nan gelap
Menghisap habis asap erupsi gunung merapi
Membahayakan dirimu sendiri,
Yang kuyakin suatu nanti akan menelantarkanmu

Inginku menggapaimu
Menarikmu kembali kehamparan hijau
Tempat fitrah awal dari segala kehidupan

Tapi, kawan didalam diri ini berkata
Apa katanya?
"Adakah benar kau orang yang peduli?
Kau harusnya lebih bahagia dengan dirimu saja
Jadi, untuk apa kau berusaha ingin memasuki hutan?
Barangkali disana ada binatang buas yang bisa membinasakanmu
Atau, makhluk halus yang membuatmu lari terbirit-birit
Mempermalukanmu!"

Nadirku bergetar, dipesisir hatiku, kubenarkan ucapan itu
Tapi, bukankah aku orang yang tak peduli?
Jadi, terserah langkahku mau hinggap diranting pohon yang mana
Siapa yang peduli!?

Lalu, aku pergi menyelam
Kupejamkan mataku nan sayu
Kurasa benar dapat melihatmu
Berdiri membelakangiku
Diujung sana
Diseberang samudra nun jauh

Kemudian kubiarkan arus menghanyutkanku
Kupasrahkan gelombang membolak-balikkan hatiku
Sedetik kemudian kugenggam erat gumpalan darah itu
Kulihat disitu terlukis sebuah kalimat
Samar, aku tak bisa mambacanya
Hanya satu kata yang mudah kuingat

Perjuangan

Ada apa dengan perjuangan?
Apakah ada sebuah tali penghubung yang menyatukannya dengan kepedulianku?

Kusadari terik matahari mulai menyelinap diubun-ubunku
Berarti samudra telah kusebrangi
Tapi, aneh
Dirimu telah lenyap
Kemana bayangmu menghilang?

Kupendarkan pandanganku
Kucari dimana sosok dirimu
Ah! Kau kudapati lagi
Dan sekarang semakin jauh
Kau begeming dipuncak gunung bersalju
Tapi, kini kau menatapku
Dingin, sedingin tempatmu berpijak

Kuambil tali dan tongkat
Kutetapkan niat dalam kalbu
Kudaki setapak demi setapak
Dan tak kualihkan pandanganku darimu

Tatapan dibalas tatapan
Kau mendelik
Kubalas dengan delikan yang sama
Kau tersenyum yang tak kutahu artinya
Kuikuti senyumanmu

Kini kau berada tepat dihadapanku
Kau tatap kaki yang penuh luka
Kau terlonjak mundur
Dan kutahan
Kugenggam bahumu
Kemudian kupeluk dirimu

Kau hanya diam saat kutanya apakah kau ingin pulang
Kulepaskan pelukanku
Kubiarkan kau terduduk merenung
Kau mungkin berpikir

Ketika kulihat pola riak air dimatamu
Kubiarkan kau tetap mempermainkannya
Aku masih menunggu

Lalu terbersit kesadaranku
Ini bukanlah sekedar kepedulian
Ini adalah perjuangan
Perjuanganku dan perjuanganmu

Dalam gerak dan diam
Dalam lamunan dan kenyataan
Dalam setiap detak dan hembusan kehidupan

Semuanya kutujukan tulus padamu
Tanpa menginginkan imbalan
Tanpa pernah berharap untuk kau balas
Semua hanya untukmu
Karna kau sayang padamu

Masih kutunggu jawabmu
Meski berpanas, hujan
Dan badaipun akan kutantang

Siapakah yang akan roboh lebih dahulu
Jasadku ini
Atau hatinu yang sekeras batu menggunung

Sampai saat itu tiba
Perjuanganku takkan berakhir
Karna aku tak peduli apapun
Karna aku sayang padamu

Minggu, 31 Juli 2011

Sebuah Catatan

      Bayangan apa yang ada dibalik senyummu?
Sketsa buram bagaimana yang bersembunyi dibalik layar matamu?

Katamu biar saja aku pergi
Terserahku mau membawa apa yang kumau

Kutau kau sangat mengerti hati ini
Kau ingin mambiarkanku mandiri

Namun langkahku terpaku
Tak bisa melaju

Sejujurnya ingin kuangkut seluruhnya
Hasil jerih payah kita
Tapi tak bisa

Didepanku menghadang sebuah tembok
Tak terlalu tinggi, mudah kuloncati
Tak terlalu kokoh, bisa saja kuhancurkan

Tapi, bukan sifatku yang begitu
Tak ingin kunodai jalanku
Juga tembok itu

Hanya karna rasa tak enak hati
Biarlah kutunggu saja
Apakah pintu ditembok itu akan terbuka
Jika tidak,
Kutinggalkan saja milikku padamu
lalu, aku pergi memutar

Dan waktupun berlalu
Aku telah sampai diujung jalanku
Harapku agar kau kirimkan lagi semua itu
Agar aku bisa mengenangmu

Dan jika semua itu tetap kau genggam
Tuliskanlah namaku disana
Lalu, kenanglah diriku bersamanya

Tak usah ragu dan menghawatirkanku
Aku tetap masih melaju
Meski harus mencari pelita hati yang lain

Jadi, aku tetap masih hidup
Walau dalam kesendirian
Tapi aku masih bisa bernyanyi,
menulis puisi,
melukis impian-impian
 
Aku masih tetep berpijar
Terang
Masih seperti dahulu
Selalu begitu.

Rabu, 15 Juni 2011

Muhammad

  Tak pernah aku mengerti mengapa awal dari namaku menggunakan kata itu.Sebuah kata yang umum ada disetiap nama insan yang muslim.
     Tapi kata itu indah. Sejauh aku bisa memandang tak pernah ada kegelisahan yang menderaku kala mengucap sebutan itu.

     Dan aku mengerti tentang rasa apa yang tertancap dihati saat ada orang yang memenggilku dengan itu.

     Itulah muhammad, nama yang diambi dari manusia termulia, seseorang yang dirindukan langit dan dibanggakan bumi. Orang yang telah mengajarkan bagaimana agar hidup ini indah. Beliaulah nabi akhir zaman sayyidina Muhammad SAW.

     Tapi aku merasa bingun dengan tipisnya rasa rinduku pada Sang Penerang itu. Mengapa aku lebih sering membayangkan menusia lain? mengapa saat terbangun dari tidur bukan dirinya yang kusebut? Bukankan ia telah berjuang untuk keselamatan umatnya, hingga diakhir hayatnya masih mengingat umatnya dengan "Ummaty ummaty ummaty"? Bukankan aku termasuk umatnya yang ia khawatirkan itu?

      Lalu kenapa dengan diriku ini? Apakah masih sangat lemah imanku ini? Dan apakah aku layak menyandan sebutan muhammad itu?

      Yang pasti aku akan tatap berusaha agar aku akan selalu mengiang-ngiangkannya dibenakku, agar disetiap aliran darahku termaktub jua lukisan indah wajahnya.

      Agar layak aku membanggakan diri sebagai penyandang nama muhammad dan aku bisa mampu untuk memanggilnya kelak dihari yang pasti nanti untuk meminta pertolongan.

      Dan tentu bukan hanya sekedar mengingat dirinya, tapi juga menjalankan apa yang telah ia ajarkan, untuk meminta keridhoannya juga keridhoan Tuhannya.

Apakah Tabu? Aku Berdiam

Menulis dangan realita terdekat, nafsu.....andai ada mentari wajahmu yang mampu aku jamah....andai mampu kudekap sinaran tubuhmu....kuredam kegelisahanku padamu dan kuhancurkan duka laramu dihatiku....

Sering tak bisa aku terlelap meski tubuh telah letih...dan sering aku bertanya apa yang akhir-akhir ini membuatku tak bisa menulis, jangankan untuk selembar kisah, sebait puisipun aku tak mampu.

Itu karena sebuah kalimat yang masih kupendam jauh di dasar mimpiku, kata yang mudah saja tapi lidahku dikunci untuk mengatakannya....Bukan aku takut untuk kehilanganmu, bukan pula aku ingin mendominasi hidupmu....

Rasaku ada diantara dua lembah itu....diapit gunung membatu, ditiup udara yang sering berubah-ubah, kadang sejuk, panas, gersang, sepi hingga badai yang bergemuruh hebat.

Tapi kasihku ini tak di aliri oleh mata air senyummu...hingga melayu senyu...meredup tapi masih berusaha kujaga agar tak mati.

Agar mungkin suatu waktu nanti api kecilku dapat menolongmu yang tersesat dalam gelap, agar tegap pundakku masih utuh kapanpun kau memerlukan sandaran. Agar binar mata kecoklatan yang kau miliki masih terang, masih menyenangkan.

Lalu kau mampu terbang melayang dan sanggup untuk melindungi seperti aku melindungimu, maka aku akan percayakan kau pergi untuk memimpin jalan yang akan ditempuh diri dan bayangmu yang mengikuti. Walau sesilat lidahku belum pernah mengatakan bahwa betapa aku sangat menyayangimu.

Jumat, 01 April 2011

Sebuah Perjalanan

     Dulu kala, saat hujan berupa tutupan bagai senja mengakhiri hari.

Kini semua itu telah terlupakan, hilang, mendekam di sudut hati siapapun yang merasakannya.

       Dulu kala, ketika mimpi hanya sekedar mimpi. keinginan yang tak perlu gundah untuk mencarikan kehadirannya.

Kini semua itu telah berubah, pudar, melusuh di keret oleh masa.

        Dulu kala, waktu menangis, tertawa, susah, bahagia sama tak ada beda.

Kini semua itu telah tiada, hilang, melayang di udara. Dalam tangis ku tertawa, dalam senyum ku menderita.

            "dulu" masa indah yang telah terlewati, hingga sampailah disini, dimasa "kini" yang masih harus di perjuangkan.
            Karna tak pernah ada yang bisa menjamin kebahagiaan "dulu" menjadi "kebahagiaan "kini".

            Karna hidup memang ada "dulu", "kini" dan "masa depan".


            Pengalaman yang nyata di kala "dulu" mejadikan jalan menempuh "kini" yang lebih terlihat sulit untuk sebuah hasil yang kita sebut sukses di "masa depan".

Minggu, 27 Februari 2011

Mengapa Menulis ???

Terbaca sebuah pertanyaan "mengapa aku menulis ?"
Oh tentu saja hal pertama yang terbersit kala membaca tulisan itu "napa takun-takun! Sarah nda ae handak nulis" dan juga "bodoh kali ne orang ya, buat apa coba nulis pertanyaan kayak ini
?"
Tapi sampai disitukah aku berpikir? Ternyata tidak! Kucoba baca apa yang tersirat dari sebuah tulisan itu. Dan akhirnya kutemui.
Menurutku pertanyaan itu adalah sebagian dari kondisi yang kusebut 'cara mengukur isi kepala seseorang'.
Dan aku tertantang untuk menjawab. Dulu, lama waktu yang lalu, aku sudah menulis ini dan itu dengan brutal, tanpa pengetahuan bagaimana sebuah tulisan itu bisa menjadi tulisan yang patut dibaca.
Dan setelah sekian tahun berlalu hingga tiba pertamuanku dengan sebuah kelompok kecil penulis di sekolah. Maka aku tersadar dan tertarik untuk bergabung.
Singkat kisah aku telah diterima sebagai anggota baru dan telah mengikuti beberapa kali pertemuan singkat. Dan aku merasa sudah hebat sampai datang ajakan mengikuti sebuah seminar kepenulisan di salah satu kampus dekat sekolahku, maka aku bersedia ikut dengan sombongnya.
Tepat di hari H di kampus tersebut tadi, seusai acara seminar itu aku baru tersadar akan kebodohanku. Betapa tidak, toh 2 jam lebih pembicaraan menarik disodorkan aku hanya berdiam mendengar terpaku tak sanggup mengungkapkan apa-apa.
Dan kau tahu, itu bukan karena aku gak bisa bicara pada khalayak, tapi lebih pada bahwa tak ada yang mampu terpikirkan oleh otak ini karna banyaknya hal baru yang hanya sesaat sebelumnya baru kuketahui.
Dan dari sana aku mulai berpikir dan berpendapat behwa aku menulis bukan untuk apa-apa.
Tapi aku menulis untuk belajar dan belajar. Dengan menulis aku bisa terus melaju maju tanpa hilang pegangan, karna sungguh banyak buku-buku dan orang-orang di daerah yang bernama 'kepenulisan' ini untuk kujadikan pegangan dan batu injakan guna kemajuan yang harus kudapat bagaimanapun caranya.
Dan tentu saja juga karna menulis itu menyenangkan. Jadi aku melakukan 2 hal yang saling mengisi satu sama lain.
Yaitu;belajar dan bersenang-senang hanya dengan satu hal yang kukerjakan, dialah menulis.
Mungkin terlalu panjanglah jawabanku atas sebuah pertanyaan pendek itu, tapi sekali lagi kukatakan bahwa ini juga bagian dari pembelajaranku yang menyenangkan itu.
Kupikir begitu.

Sabtu, 26 Februari 2011

Fakhry & Dewi

Fakhry dan Dewi. Terlihat indah kala memandang keselarasan hidup mereka.
Keindahan itu terpatut seperti kala dahulu, masa yang telah terlewati,zaman ketika hanya ada tangis dan tawa bahagia.
Mengingatkanku pada suatu kejadian lampau yang mampu menumbuhkan sebuah semangat dalam tetes air mata ini.
Aku dan Ibukulah yang kuingat. Kala itu semuanya terasa sangat menyenangkan indah tepat pada waktunya.
Ibu, kau tampatku bersandar disaat lelah. Pundakmu yang lebar itu menjadi tempat tujuan untukku bertumpu, meluruhkan seluruh keluh kesah, mimpi, impoan dan tentu cintaku.
Tatap matamu tak setajam matahari tapi sinarmu jauh lebih benderang dari apapun jua yang menghasilkan cahaya.
Dan lagi percayamu mampu membakar semangatku menemaniku hingga kini beranjak dewasa.

Tapi, semua itu hanya tinggal sebuah kenangan masa lalu yang telah terkubur begitu dalam sampai saat ini penglihatan akan sepasang Ibu dan anak itu tiba menghampiri duniaku kembali.
Yah begitulah hidupku. Selalu ada DE JAVU yang terus menyertainya baik nyata ataupun tidak, baik dari diriku ataupun melewati orang lain seperti ini.

Harapku pada kalian wahai fakhry dan Dewi. Jadilah anak dan Ibu yang sungguh sangat dapat membuat senyum bagi dunia ini.
Cukuplah aku yang merasakan kegundahan akibat hilangnya keseinbangan hidup kala terjadi sesuatu yang tak ingin siapapun mengalaminya, tapi, sungguh aku percaya itu adalah sebagian dari rahasia hidupku yang telah dibedakan oleh Sang Pembuat Takdir.
Sebuah simponi itu telah lama berlalu. Dan kini aku berharap semoga jalanmu wahai saudariku juga anakmu berjalan lurus sajalah namun tetap berakhir pada sebuah kebanggaan hidup.
Melalui cinta dan kasih tentunya. Hiduplah keseimbangan kehidupan, semoga semua tetap indah pada waktunya.

Minggu, 23 Januari 2011

asma l husna

          Hanya duduk menunggu , melihat & mendengar.Bagai buaya menatap mangsanya,atau bagai binatang peliharaan yang menunggu jatah makannya dilempar.
     Dan begitulah diriku,bertahan termenung menatap kembali tatapan indah nyalangnya,mendengar penuh hikmat kata-kata bijaknya.Menyentuh kalbu,membakar sanubari,berakhir terpana.
     Aku tahu ! aku hanya sedikit dari sekian banyak orang yang pernah menatap wajahnya,sedikit dari begitu banyak orang yang pernah begitu dekat dengannya.
     Tapi aku jelas tahu, bahwa aku, hanya aku seorang yang berharap bisa bersama"nya" & dan menjadi dirinya
    
            Begitulah adanya ! apa yang aku rasa ketika aku mengingat saat-saat indah tak tergantikan bersama itu.adakah lagi waktu bertemu ?.
      "Tuhan yang kan menjawabnya" begitulah katanya "semoga bermanfaat"

       Ohh kehidupan...!!!

Kamis, 06 Januari 2011

Palangka Raya

      Dahulu kala, tepatnya beberapa hari yang telah lewat, aku, seorang aku memulai sebuah perjalanan menuju kota Palangka Raya yang dikata orang sebagai calon ibu kota negara yang baru.
      Dan setelah beberapa waktu berlalu menunjukkan bahwa kota itu memang indah menurut kesimpulan, tapi masih banyak kekurangan yang dimilikinya. Bahkan dibanding dengan sepupunya,Banjarmasin, menurutku kota itu masih jauh tertinggal.
       Dan lagi apakah pantas kota itu menjadi ibu kota negera selanjutnya, jika saja di sana masih terlihat sesuatu yang seharusnya bukan berada di ibu kota negara.
       Calon ibu kota negara seharusnya adalah tempat yang masih menyimpan jiwa dari bangsa,seperti ibu kota yang sekarang dengan Betawinya.
        Indonesia adalah negara dengan mayoritas islam,sepantasnyalah di ibu kotanya juga terdapat budaya daeerah yang menunjukkan atau mewakili bahwa kami Indonesia adalah negara mayoritas islam,separti Betawi saat ini.