Acuh
Pernahkah aku peduli
Sesaat lalu memang kurasakan
Tapi, kini telah kubuang
Inginku bertanya
Apakah pernah kau bermimpi?
Mendambakan sesuatu yang indah?
mencita-cita segala yang mulia?
Lalu, bagaimana kau bisa disana?
Berdiri didalam hutan tidur nan gelap
Menghisap habis asap erupsi gunung merapi
Membahayakan dirimu sendiri,
Yang kuyakin suatu nanti akan menelantarkanmu
Inginku menggapaimu
Menarikmu kembali kehamparan hijau
Tempat fitrah awal dari segala kehidupan
Tapi, kawan didalam diri ini berkata
Apa katanya?
"Adakah benar kau orang yang peduli?
Kau harusnya lebih bahagia dengan dirimu saja
Jadi, untuk apa kau berusaha ingin memasuki hutan?
Barangkali disana ada binatang buas yang bisa membinasakanmu
Atau, makhluk halus yang membuatmu lari terbirit-birit
Mempermalukanmu!"
Nadirku bergetar, dipesisir hatiku, kubenarkan ucapan itu
Tapi, bukankah aku orang yang tak peduli?
Jadi, terserah langkahku mau hinggap diranting pohon yang mana
Siapa yang peduli!?
Lalu, aku pergi menyelam
Kupejamkan mataku nan sayu
Kurasa benar dapat melihatmu
Berdiri membelakangiku
Diujung sana
Diseberang samudra nun jauh
Kemudian kubiarkan arus menghanyutkanku
Kupasrahkan gelombang membolak-balikkan hatiku
Sedetik kemudian kugenggam erat gumpalan darah itu
Kulihat disitu terlukis sebuah kalimat
Samar, aku tak bisa mambacanya
Hanya satu kata yang mudah kuingat
Perjuangan
Ada apa dengan perjuangan?
Apakah ada sebuah tali penghubung yang menyatukannya dengan kepedulianku?
Kusadari terik matahari mulai menyelinap diubun-ubunku
Berarti samudra telah kusebrangi
Tapi, aneh
Dirimu telah lenyap
Kemana bayangmu menghilang?
Kupendarkan pandanganku
Kucari dimana sosok dirimu
Ah! Kau kudapati lagi
Dan sekarang semakin jauh
Kau begeming dipuncak gunung bersalju
Tapi, kini kau menatapku
Dingin, sedingin tempatmu berpijak
Kuambil tali dan tongkat
Kutetapkan niat dalam kalbu
Kudaki setapak demi setapak
Dan tak kualihkan pandanganku darimu
Tatapan dibalas tatapan
Kau mendelik
Kubalas dengan delikan yang sama
Kau tersenyum yang tak kutahu artinya
Kuikuti senyumanmu
Kini kau berada tepat dihadapanku
Kau tatap kaki yang penuh luka
Kau terlonjak mundur
Dan kutahan
Kugenggam bahumu
Kemudian kupeluk dirimu
Kau hanya diam saat kutanya apakah kau ingin pulang
Kulepaskan pelukanku
Kubiarkan kau terduduk merenung
Kau mungkin berpikir
Ketika kulihat pola riak air dimatamu
Kubiarkan kau tetap mempermainkannya
Aku masih menunggu
Lalu terbersit kesadaranku
Ini bukanlah sekedar kepedulian
Ini adalah perjuangan
Perjuanganku dan perjuanganmu
Dalam gerak dan diam
Dalam lamunan dan kenyataan
Dalam setiap detak dan hembusan kehidupan
Semuanya kutujukan tulus padamu
Tanpa menginginkan imbalan
Tanpa pernah berharap untuk kau balas
Semua hanya untukmu
Karna kau sayang padamu
Masih kutunggu jawabmu
Meski berpanas, hujan
Dan badaipun akan kutantang
Siapakah yang akan roboh lebih dahulu
Jasadku ini
Atau hatinu yang sekeras batu menggunung
Sampai saat itu tiba
Perjuanganku takkan berakhir
Karna aku tak peduli apapun
Karna aku sayang padamu
wah , puisi.. aku kada paham puisi.. haha
BalasHapusshare karya tulis ikam disinilah:
http://www.kontra24.org/search/label/Karya%20Tulis