Bersinarlah mentari.
Benamkan semua duka.
Yang dalam kegelapan malam.
Membuatku terus dan terus terjaga.
Arti tatapan matamu.
Bagai rembulan dan matahari.
Meneduhkan dan menyemangati.
Membakar habis lesu raga dan ruhani.
Terbias aura kasih.
Bertopeng acuh dan tak simpati.
Tapi, sungguh dalam hati.
Tak terlewat detik tanpa dirimu.
Bersih berkumandang lantang suara.
Namun, perih yang tersembunyi.
Masih menatap dalam sepi.
Hingga kita tahu siapa yang lebih peduli.
Yang memenangkan perseteruan hati ini.
Perseteruan bathin.
Membumbui perjalanan keinginan akan dirimu.
Apakah akan membual dengan mencinta.
Atau pergi berkelana mencari pena.
Untuk menulis dan melukis ridha Sang Maha Kuasa.
Dengan tak lagi menatap bayangmu.
Tapi, ini hanya untuk sementara.
Menunggu hingga waktu halalmu tiba.
Karna tak sanggup jika dibenci.
Bahkan hanya tak peduliNya pada diri.
Karna kuingin.
Mengukirkan nama disurga Ilahi Rabby.
Benamkan semua duka.
Yang dalam kegelapan malam.
Membuatku terus dan terus terjaga.
Arti tatapan matamu.
Bagai rembulan dan matahari.
Meneduhkan dan menyemangati.
Membakar habis lesu raga dan ruhani.
Terbias aura kasih.
Bertopeng acuh dan tak simpati.
Tapi, sungguh dalam hati.
Tak terlewat detik tanpa dirimu.
Bersih berkumandang lantang suara.
Namun, perih yang tersembunyi.
Masih menatap dalam sepi.
Hingga kita tahu siapa yang lebih peduli.
Yang memenangkan perseteruan hati ini.
Perseteruan bathin.
Membumbui perjalanan keinginan akan dirimu.
Apakah akan membual dengan mencinta.
Atau pergi berkelana mencari pena.
Untuk menulis dan melukis ridha Sang Maha Kuasa.
Dengan tak lagi menatap bayangmu.
Tapi, ini hanya untuk sementara.
Menunggu hingga waktu halalmu tiba.
Karna tak sanggup jika dibenci.
Bahkan hanya tak peduliNya pada diri.
Karna kuingin.
Mengukirkan nama disurga Ilahi Rabby.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar